Fish

Selasa, 20 Maret 2012

HUBUNGAN KEPEMIMPINAN GEMBALA YANG BERINTEGRITAS DENGAN PERTUMBUHAN ROHANI PENGERJA DAN AKTIVIS GEREJA / JEMAAT LOKAL

HUBUNGAN KEPEMIMPINAN GEMBALA YANG BERINTEGRITAS DENGAN
PERTUMBUHAN ROHANI PENGERJA DAN AKTIVIS GEREJA / JEMAAT LOKAL
Admin.darius nawipa

Pertumbuhan Rohani Pengerja dan Aktivis
Pertumbuhan Rohani
Pertumbuhan jemaat juga pengerja dan aktivis adalah hal yang pokok dalam strategi pelayanan misi Paulus, seperti dijelaskannya kepada gereja-gereja lainnya. Ia memfokuskan pendalaman maupun perluasan yang dicapai melalui konsolidasi dan pengembangan. Ia ingin melihat gereja-gereja menjadi dewasa yang di dalamnya terdiri dari murid-murid yang saleh, bukan hanya statistik dari jumlah orang yang menjadi Kristen di setiap kota. Ini tetap merupakan bagian dari integritas misi kristiani masa kini, dan ini merupakan elemen penting dari pelayanan kita. Penginjilan, mendirikan gereja dan membina pertumbuhan jemaat serta pelayan menuju kedewasaan merupakan kesatuan yang utuh dan misi Paulus memasukkan seluruh spektrum yang diawali dari pemberitaan Injil sampai kepada pemuridan yang menuju kedewasaan kristiani.

Pertumbuhan rohani yang dewasa ditandai dengan irama hidup yang ditulis dalam Yohanes 4:34, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” artinya adalah penampilan batiniah kita, bukan penampilan luarnya. Makanan disini diterjemahkan sebagai rezeki atau kebutuhan hidup. Makanan dihubungkan dengan pelayanan. Jika pelayanan adalah kebutuhan hidup, maka itu bukanlah kewajiban atau profesi. Pelayanan adalah irama hidup dan pelayanan itu dilakukan bukan karena ikut-ikutan. Oleh sebab itu, orang yang melayani Tuhan harus dimulai dari pertumbuhan rohani yang menuju ke kedewasaan rohani. Ketika seorang dewasa secara rohani, ia memahami arti hidup, tujuan hidup dan arti kebaikan, ia tidak hanya memikirkan tentang kebutuhan jasmani saja, melainkan sesuatu yang bernilai kekal. Singkatnya adalah memiliki fokus yang jelas, sehingga pelayanannya menjadi jelas.[1]

Motivasi
            Pengertian motivasi menurut French dan Raven, sebagaimana dikutip Stoner, Freeman, dan Gilbert (1995) adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk menunjukkan perilaku tertentu. Motivation is the set of forces that cause people to behave in certain ways. Hubungan motivasi dengan kepemimpinan adalah terkait fungsi kepemimpinan pada dasarnya adalah tindak lanjut dari pemahaman para manajer terhadap keragaman karakteristik motif dan perilaku para pegawai dalam organisasi. Bagaimana semestinya para manajer  mengarahkan dan memotivasi para pegawai menjadi esensi pokok dari kepemimpinan.[2]
Kualitas kepemimpinan, pada gilirannya sangat ditentukan oleh motivasi. Hanya motivasi yang baik, yang bisa melahirkan pemimpin yang baik. Seperti Cuma benih yang baik, yang dapat menghasilkan tanaman yang baik.            Benarlah yang dikatakan J. Oswald Sanders (Spiritual Leadership) bahwa Alkitab tidak pernah menentang atau melarang ambisi. Ambisi pada dirinya adalah netral – tidak baik atau jahat. Yang membuat ia baik atau jahat adalah moralitas di baliknya. Dengan perkataan lain, motivasinya. Inilah initi peringatan Yeremia “Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri?” (45:5). Oswald Sanders menyebutnya self-centered ambition, ambisi yang berpusat pada kepentingan diri sendiri. Ini yang buruk, ini yang jahat.[3]
Dalam pelayanan, motivasi yang benar menghasilkan hasil yang benar. Pelayanan dimulai dengan hati bukan dengan penampilan. Motivasi yang dicemari keinginan untuk tampil atau memperoleh kedudukan akan menghasilkan hasil yang salah atau perselisihan, perpecahan, luka batin dan kepedihan.[4]
            Di dalam dunia ini, kita melihat ada beberapa macam motivasi untuk berjerih payah (pelayanan), yaitu :
1)      Ada orang yang pelayanan karena sudah salah membuat suatu keputusan
2)      Ada orang yang pelayanan karena harus menanggung hukuman yang memang harus ditanggungnya.
3)      Ada orang yang pelayanan karena kewajiban
4)      Ada orang yang pelayanan karena upah dan uang
5)      Ada orang yang pelayanan karena memiliki keyakinan
6)      Ada orang yang pelayanan karena pengharapan
7)      Ada orang yang pelayanan karena mencintai.
Setelah mengatakan dengan kemenangan Kristus, melalui kebangkitan-Nya, perjuangan-Nya, peperangan-Nya mengalahkan kuasa setan yang meniadakan kait, yaitu sengat kematian dan kuasa hukuman dosa, Paulus mengatakan karena kemenangan Yesus Kristus, kita jangan goyah, jangan takut. Karena itu berdirilah teguh dan kita harus bekerja berat bagi Tuhan. Dengan tidak goyah dan giat dalam pekerjaan Tuhan. Sebab kita mengetahui bahwa jerih payah kita di dalam Tuhan tidak sia-sia. Dari ayat diatas kita mendapat tiga kesimpulan : (1) karena Kristus telah mencapai kemenangan melalui jerih payah-Nya, maka kita berjerih payah bagi Yesus Kristus karena kemenangan-Nya, (2) karena pekerjaan ini adalah pekerjaan Tuhan sendiri, maka kita tidak menghiraukan untung-rugi kita sendiri. Kita berjerih payah karena kita mencintai Tuhan. Giatlah mengerjakan pekerjaan Tuhan. Seringkali, kerugian yang diakibatkan sesama kita, menjadikan kita jenuh, lesu dan putus asa melayani Tuhan. Setiap kali kita mengingat pekerjaan ini adalah pekerjaan Tuhan, biarlah kita dikuatkan kembali untuk melayani, dan (3) kita berjerih payah dengan suatu pengertian yang sehat, yaitu karena kita tahu. Dalam Alkitab seringkali muncul istilah “tahu” pada waktu penderitaan yang betul-betul bernilai dibutuhkan. Karena kita tahu barangsiapa mempunyai pengetahuan yang sehat, barangsiapa mempunyai pengertian yang sungguh-sungguh sejati, ia akan mengalahkan penderitaan, ia akan mengalahkan perasaan jerih payah.[5]
            Tabel di bawah ini adalah hasil satu survai yang jujur pada sejumlah orang tertentu yang terlibat dalam pelayanan. Survai faktual ini paling tidak memberikan gambaran tentang motivasi-motivasi yang mungkin timbul ketika seseorang melayani. Ini menjadi semacam refleksi bagi kita pribadi dan sesungguhnya hanya Tuhan dan diri kita yang tahu apa yang sebenarnya motivasi kita melayani. Kendatipun demikian, motivasi yang mendasari pelayanan kita bisa tampak dari buah pelayanan bagaikan surat terbuka yang dibaca dunia. [6]

Tabel. Alasan Melayani Tuhan
Sumber : Pdt. Dr. MS. Anwari, khotbah di GKRI Kelapa Gading, Jakarta, Juni 1998

Alasan Melayani Tuhan
Persentase (%)
Ajaran yang menyimpang
7
Tindakan kepada orang lain
8
Iri Hati
9
Konflik/ kekerasan
7
Berpihak/ keberpihakan
8
Berpura-pura saja
7
Ambisi pribadi
10
Supaya dihormati
8
Sombong rohani
10
Merasa sok jago/sok hebat
11
Ingin berkuasa
8
Kasih kepada Allah
4
Kasih kepada sesama
3

A.1.1.b. Kasih
            Kasih mengubah titik menjadi koma. Dan di mana ada kasih, artinya ketika kebutuhan sesama kita letakkan di pusat kepedulian kita, maka di situ akan ada dengan sendirinya kerelaan dan kesukaan melayani. Dan di mana ada kerelaan serta kesukaan melayani, di situlah pemimpin dan sekaligus pelayanan yang sejati. Pelayanan dan kepemimpinan harus dimulai dari hati yang tergerak oleh iba (compassion) yang tulus dan spontan kepada orang banyak. Melayani itu lebih dari sekedar melakukan sesuatu dengan baik.[7]

A.1.1.a. Disiplin
            Disiplin adalah napas kehidupan yang bisa mempengaruhi kualitas kepemimpinan seseorang. Paulus meminta Timotius untuk berlatih seperti “seorang olahragawan” yang hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. Bagi paulus, disiplin itu berarti menjaga. Menjaga supaya semuanya berjalan dengan baik dan tertib. Disiplinlah dalam berbicara. Karena itu ia mengingatkan jemaat untuk jangan bersilat kata. Bersilat kata hanya akan menyebabkan pertengkaran. Disiplinlah dalam menggunakan waktu, Disiplinlah dalam berdoa, katanya kepada jemaat di Kolose. “Bertekunlah dalam doa” atau disiplin dalam mengasihi tulisnya kepada mereka yang ada di Roma. Kepemimpinan dan nama Tuhan hanya mampu mengubah diri sendiri, mengubahan keadaan sekitar atau mengubah dunia sekalipun jika ada pemimpin-pemimpin yang mendisiplinkan diri. Yang mampu memenangkan pertarungan hanyalah seorang olahragawan yang disiplin.[8]
            Para Pemimpin (Pengerja dan Aktivis) membutuhkan disiplin dalam berbagai bidang kehidupan dan pelayanan. Hal ini terutama berlaku di bidang disiplin rohani. Lebih dari 15 tahun terakhir, disiplin rohani memiliki daya tarik kuat diantara gereja Protestan. Daya tarik ini dibentuk oleh dua hal, yaitu hasrat untuk akrab dengan Allah yang semakin meningkat dan kegagalan para pemimpin dalam pelayanan mereka. Disiplin rohani merupakan salah satu sarana utama untuk intim dengan Allah. Ketekunan dalam melakukan disiplin rohani menjadi usaha menentukan dalam mencapai pelayanan yang tuntas. Mempraktekkan disiplin rohani memampukan pemimpin untuk memusatkan perhatian pada prioritas Allah dan menjaga perilaku serta sikap mereka yang berpotensi menghancurkan pelayanan. Dari waktu ke waktu pemimpin harus meningkatkan disiplinnya. Selain membaca Alkitab dan berdoa disarankan juga agar  memperluas wilayah disiplin rohani anda. Rasul Paulus menegaskan pada jemaat Korintus bahwa mendisiplinkan diri adalah sarana untuk tekun dalam pelayanan. Paulus telah berusia 50-an tahun ketika ia menulis surat Korintus dan membuka kunci keberhasilan pelayanannya. Dia telah sekitar 20 tahun melayani ketika ia menulis, “Aku bersungguh-sungguh bertekun dalam pelayanan. Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1 Korintus 9:24-27). Paulus yakin akan manfaat disiplin. Kurangnya disiplin fisik sering kali menunjukkan pula kurangnya disiplin rohani. Sampai akhir hidupnya, Paulus mendesak Timotius untuk menjaga dirinya tetap kuat “... Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu bergyna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang”. [9]

A.1.2. Pengerja dan Aktivis
            Seorang Pelayan Tuhan yaitu seorang yang melayani pekerjaan Tuhan. Bukan saja ia harus mempunyai pengetahuan dan kecakapan dalam pekerjaan yang ia jalankan, tetapi dibelakang tugasnya itu adalah seluruh kepribadiannya. Tuhan Yesus dalam Matius 5:3-9 menyiratkan seorang pelayan Tuhan (murid Kristus) harus : rendah hati, hancur hati, lembut hati, lapar dan haus akan kebenaran, menaruh kasihan, suci hati, damai hati.[10]
Ada berbagai macam faktor yang melatarbelakangi mengapa seseorang melayani Tuhan, tetapi faktor yang paling utama yang mendasari pelayanan yang sejati adalah panggilan Tuhan. Faktor panggilan Tuhan akan menjadikan seseorang hidup untuk melayani, bukan melayani untuk hidup. Karena panggilan itu pula, seseorang mempunyai pengalaman nyata kasih karunia Allah dalam hidupnya dan kemudian menjadikan kasih kepada Allah dan sesama sebagai dasar kehidupan dan pelayanannya.
            Orang yang memiliki kasih kepada Allah dan sesama inilah yang akan tahan banting dalam pelayanan. Rasul Paulus adalah salah satu contoh seorang yang memiliki panggilan Tuhan yang jelas dalam hidupnya. Itulah yang membuat hidup dan pelayanannya begitu luar biasa di dalam tangan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang.[11]
            Spears pada tahun 1995 melakukan studi indikator kehadiran pemimpin yang melayani terlihat dari 10 hal berikut : (1) Kesediaan untuk menyimak, (2) Kuat dalam empati, (3) Melakukan pemulihan-pemulihan, (4) Penyadaran/ peningkatan kesadaran, (5) Memiliki sikap persuasif, (6) Mampu membuat konsep, (7) Mampu membuat perkiraan yang tepat, (8) Penatalayanannya baik, (9) Memiliki komitmen untuk menghasilkan proses pembelajaran, (10) Serius dalam upaya pembentukan dan pengembangan komunitas.[12]

A.1.3. Pertumbuhan Rohani Pengerja dan Aktivis
            Gembala akan sangat senang jika melihat seorang pengerja yang rajin. Pengerja yang malas akan tidak disenangi oleh banyak orang termasuk Tuhan. Lazimnya seorang pengerja yang malas dalam pekerjaannya dapat dipastikan bahwa ia juga malas berdoa, menyelidiki Firman Tuhan dan melayani. Tetapi sebaliknya pengerja yang rajin, dia pasti rajin berdoa, menyelidiki Firman Tuhan dan rajin dalam pelayanan.[13]
(1)               Kesucian : pengerja harus senantiasa hidup dalam kesucian baik kesucian tubuh, jiwa maupun roh adalah mutlak bagi seorang hamba Tuhan (pengerja), kalau ada dosa, cepat dibereskan dan diselesaikan. Jangan simpan dosa dan jangan hidup dalam dosa.
(2)               Setia Pada Perkara Yang Kecil : dalam melayani Tuhan akan dimulai dengan perkara yang kecil dan sederhana, untuk hal-hal yang kelihatannya kecil ini seorang pengerja dituntut kesetiaannya.
(3)               Mau Dinasihati, Ditegur dan Diajar : seorang pengerja yang baik adalah orang yang bersedia ditegur dan dinasihati jika berbuat salah. Dan berterimakasih untuk teguran dan nasihat dari gembala atau orang lain supaya hidupnya jadi lebih baik. Seorang pengerja yang suka akan teguran dan nasihat ia pasti berhasil.
(4)               Memberi Persembahan : sebagai hamba Tuhan kita harus mengembalikan milik Tuhan beruapa persembahan, seorang pelayan mengajar jemaat untuk mengembalikan milik Tuhan, karena itu seorang pelayan harus terlebih dahulu melakukannya.
(5)               Rela Berkorban : perintah supaya rela berkorban demi menyenangkan Tuhan tidak boleh menjadi beban atau tekanan. Perintah ini harus disambut dengan respon yang positif supaya menghasilkan hidup yang berkualitas tinggi.
(6)               Kudus : kekudusan adalah tuntunan atas kecintaan terhadap Bapa, teladannya adalah Tuhan Yesus. Perjuangan pelayan Tuhan adalah kekudusan hidup, mulai dari ambisi, cita-cita, nilai bahkan cara hidup sekalipun, semuanya demi kekudusan nama Tuhan. Bagi banyak orang kata kekudusan membentuk bayangan orang yang benar diri, yang secara total terpisah dari masalah-masalah duniawi, yang hanya berbicara tetang hal-hal rohani dan berpenampilan serius bahkan murung. Tetapi kata kudus (hagios) dalam Perjanjian Baru digunakan untuk menggambarkan umat Allah secara umum dan bukan sekelompok kecil orang pilihan. Kudus adalah tujuan dari hidup Kristen dan dasar kesaksian dan pelayanan kita di dunia. Robert Murray Mcheyne dengan tepat menuliskan bahwa “orang yang kudus adalah alat yang luar biasa dalam tangan Tuhan”. Dalam terang ini kita perlu menangkap kembali panggilan alkitabiah untuk hidup kudus.[14]
(7)               Belas Kasihan atau Peduli : “Semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-muridKu bila kamu saling mengasihi”. Tertullian, teolog gereja mula-mula, membanggakan diri dalam salah satu karyanya bahwa pernyataan Yesus telah menjadi fakta. Bahkan musuh mereka, tulis Tertullian, takjub, mengatakan, “Lihat bagaimana mereka saling mengasihi”. Tetapi sayang sekali gereja tidak selalu ditandai dengan belas kasihan dan pengorbanan diri. Terlalu sering kita berbicara tentang kasih tetapi gagal mendukung perkataan kita dengan tindakan-tindakan kebaikan dan kemurahan. Kita perlu mereguk dalam-dalam pesan yang sederhana tapi jelas dalam cerita orang Samaria yang baik hati. Begitu sederhananya cerita ini sehingga melemahkan impaknya, lalu dianggap sebagai kekecualian dan bukan norma untuk warga Kerajaan Allah.[15]
(8)               Doa : merupakan nafas bagi kehidupan rohani kita. Melalui doa hidup kita terhubung dengan Sumber Kehidupan yaitu Tuhan sendiri. Dalam doa kita menghadap dan menyampaikan sesuatu kepada Tuhan. Doa juga menjadi salah satu sarana bagi Tuhan untuk menyampaikan pesan-Nya kepada kita. Pada dasarnya doa adalah sebuah komunikasi dua arah yang didasari suatu hubungan.[16]
(9)               Saat Teduh : perjumpaan pribadi dengan Tuhan adalah saat yang sangat penting dalam hubungan kita dengan-Nya. Hal ini dilakukan melalui saat teduh setiap hari yang kita lakukan secara khusus untuk bertemu dan berbicara dengan Tuhan melalui doa dan perenungan akan Firman-Nya secara pribadi. Dengan cara ini kita mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan.[17]
(10)           Parsipasi dalam Pelayanan : dalam konteks dan paradigma Tubuh Kristus, kita menerima pemahaman bahwa setiap orang diperlengkapi dengan kemampuan yang spesifik oleh Tuhan untuk dikontribusikan ke dalam pelayanan Tubuh Kristus. Karena setiap orang spesial adanya, maka kontribusi setiap orang menjadi spesifik, dan semua orang praktis mempunyai peranan yang sama pentingnya dalam keseluruhan penatalayanan gereja.[18]

A.1.4. Dimensi Pertumbuhan Rohani Pengerja dan Aktivis
Berdasarkan deskripsi teori-teori di atas, maka Pertumbuhan Rohani Pengerja dan Aktivis dalam penelitian ini diukur dengan tiga dimensi, yaitu Motivasi, Kasih dan Disiplin. Motivasi dengan idikator-indikatornya : 1) Hidup Kudus, 2) Partisipasi dalam Pelayanan dan 3) Memberi Persembahan. Kasih dengan indikator-indikatornya : 1) Rela Berkorban, 2) Mengampuni dan 3) Peduli. Disiplin dengan indikator-indikatornya : 1) Doa, 2) Saat Teduh dan 3) Membaca Firman.

A.2. Kepemimpinan Gembala Yang Berintegritas
A.2.1. Konsep Dasar Kepemimpinan
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses memengarui dan mengarahkan para pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah ditugaskan kepada mereka. Sebagaimana didefinisikan oleh Stoner, Freeman dan Gilbert (1995), kepemimpinan adalah the process of directing and influencing the task-related activities of group members. Kepemimpinan adalah proses dalam mengarahkan dan memengaruhi para anggota dalam hal berbagai aktivitas yang harus dilakukan. Lebih jauh lagi, Griffin (2000) membagi pengertian kepemimpinan menjadi 2 konsep, yaitu sebagai proses, dan sebagai atribut. Sebagai proses, kepemimpinan difokuskan kepada apa yang dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses dimana para pemimpin menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi para pegawai, bawahan atau yang dipimpinnya, memotivasi mereka untuk mencapai tujuan tersebut, serta membantu menciptakan suatu budaya produktif dalam organisasi. Adapun dari sisi atribut, kepemimpinan adalah kumpulan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Oleh karena itu, pemimpin dapat didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan untuk memengarui perilaku orang lain tanpa menggunakan kekuatan, sehingga orang-orang yang dipimpinnya menerima dirinya sebagai sosok yang layak memimpin mereka.3
            Kepemimpinan berarti cara memimpin, yang berasal dari kata dasar kata benda Pimpin yang berarti tuntunan, bimbingan, hasil memimpin dan kata kerja Memimpin yang berati mengepalai, mengetuai; memandu; memegang tangan seseorang untuk dibimbing dan ditunjukkan jalan; melatih, mendidik, mengajar agar dapat mengerjakan sendiri.[19]
Organisasi kepemimpinan ada karena diciptakan dan bukan karena dilahirkan. Ini mungkin terdengar klise karena ungkapan “diciptakan, bukan dilahirkan” (made, not born) dewasa ini sedang populer pada saat kita membicarakan tentang kepemimpinan itu sendiri. Orang-orang termasyhur yang memimpin organisasi raksasa dan besar seringkali dicap sebagai pendobrak, radikal, mencapai tujuan mereka dengan cara-cara yang tak lazim, untuk bertahan mereka memiliki tiga kekuatan kunci, yaitu : 2
a.         Mereka mengormati integritas dari cita-cita mereka dan naluri yang mengiringinya.
b.         Mereka mempunyai bakat untuk menarik para penanggung risiko lainnya kepihak mereka.
c.         Mereka semua menjadi siswa dan juga sebagai mentor, belajar dari pengikutnya, dari kesalahan-kesalahan mereka dan dari saingan mereka.

A.2.2. Kepemimpinan Umum
Faktor kepemimpinan tidak diragukan lagi tingkat kepentingannya dalam fungsi pengarahan dan keseluruhan fungsi-fungsi manajemen organisasi. Ada begitu banyak pendekatan klasik maupun kontemporer baik yang diperbincangkan secara praktik maupun secara ilmiah diantaranya adalah :
a.       Kepemimpinan Karismatik atau charismatic leadership adalah kepemimpinan yang mengasumsikan bahwa karisma merupakan karakteristik individu yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang dapat membedakannya dengan pemimpin yang lain, terutama dalam hal implikasi terhadap inspirasi, penerimaan dan dukungan para bawahan. Menurut Robert House (1977) seorang pemimpin karismatik haruslah memiliki kriteria sebagai seorang yang tinggi tingkat kepercayaan dirinya, kuat keyakinan dan idealismenya, serta mampu mempengaruhi orang lain juga mampu berkomunikasi secara persuasif dan memotivasi para bawahannya. Griffin (2000) menjelaskan bahwa paling tidak terdapat 3 elemen yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin karismatik, yaitu :
(1)   Mampu menyusun visi bagi masa depan, mampu menetapkan harapan yang tinggi, serta mampu memberikan perilaku yang mendukung pencapaian harapan yang tinggi tersebut.
(2)   Mampu untuk memberikan kekuatan kepada orang lain untuk menunjukkan kinerja yang baik dan terdorong untuk nerprestasi, percaya diri dan terdorong untuk meraih kesuksesan.
(3) Mampu untuk membangun relasi dengan orang lain melalui dukungan, empati, dan keyakinan akan kemampuan yang dimiliki orang lain.[20]
b.      Kepemimpinan Transformatif adalah gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh manajer atau pemimpin dimana kemampuannya bersifat tidak umum dan diterjemahkan melalui kemampuan untuk merealisasikan misi, mendorong para anggota untuk melakukan pembelajaran, serta mampu memberikan inspirasi kepada bawahan mengenai berbagai hal baru yang perlu diketahui dan dikerjakan. Transformatif pada dasarnya kemampuan untuk  beradaftasi dengan perubahan, sehingga esensi dari kepemimpinan transformatif adalah kemampuan seseorang pemimpin untuk membawai orang-orang dan organisasi untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan untuk kesuksesan di masa yang akan datang.5[21]
c.       Kepemimpinan Inspiratif
d.      Kepemimpinan Simbolis

A.2.3. Kepemimpinan Kristen

Frank Damazio menuliskan kualifikasi karakter kepemimpinan yang didaftar dari 1 Timotius 3:1-13 dan Titus 1:5-9 dimana ada sejumlah standar kedewasaan karakter yaitu :
-       Tidak dapat dituduh (1 Timotius 3:2; Titus 1:7)
-       Suami dari satu istri (1 Timotius 3:2; Titus 1:7)
-       Dapat menahan diri (1 Timotius 3:2; Titus 1:8)
-       Bijaksana (1 Timotius 3:2)
-       Sopan  (1 Timotius 3:2)

Setiap generasi membutuhkan seseorang yang berpandangan jauh ke depan dan memiliki motivasi yang kuat untuk menjadi pemimpin. “ Bila tidak ada Wahyu, menjadi liarlah rakyat” (Amsal 29:18). Orang yang gagal mencari kehendak Allah akan gagal juga dalam memimpin umatNya pada arah yang benar.
Kepemimpinan adalah fenomena social yang selalu hadir dalam interaksi social, karena itu Kepemimpinan selalu kita alami dalam konteks hidup bersama. Melalui pengalaman itu, kita mengenal dan mengetahui kepemimpinan sebagai fungsi mempengaruhi orang untuk melakukan suatu hal. Efektivitas seorang pemimpin, ditentukan dan dipengaruhi oleh pemahaman si pemimpin tentang arti kepemimpinan, pilihan jenis dan gaya kepemimpinan.

Uraian pentingnya pemimpin dan kepemimpinan, dilukiskan oleh Napoleon dalam kalimat ungkapan/sindirannya : “Saya lebih baik mempunyai pasukan yang terdiri dari kelinci yang dipimpin oleh seekor singa, daripada memiliki pasukan singa yang dipimpin oleh seekor kelinci”. Dengan ungkapan ini, Napoleon hendak menegaskan betapa pentingnya seoeang pemimpin dan kepemimpinan dalam suatu organisasi.

A.2.4. Ciri Pemimpin Yang Tidak Baik
            Ciri-ciri pemimpin yang baik diantaranya adalah :
Semua keputusan yang diambil adalah demi untuk kepentingan dirinya sendiri. Pemimpinlah yang memutuskan segala-galanya tentang apa, mengapa, untuk apa, bagaimana, siapa, kapan dan dimana suatu pekerjaan dilakukan (contoh klasik dalam Alkitab adalah Raja Nebukadnezar, Daniel 2:1-13).
Celakalah gembala-gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri. Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu ? Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman (Yehezkiel 34:2b-4).

Contoh-contoh bagaimana menjadi pemimpin yang bertanggung jawab ada dalam Mazmur 23 dan beberapa bagian dalam Alkitab yang menunjukkan padanan pengertian kepemimpinan yaitu :
-       Tuhan berjalan di depan mereka …. Dalam tiang awan untuk menuntun (memimpin) mereka di jalan (Keluaran 13:21)
-       Pergilah sekarang tuntunlah (pimpinlah) bangsa itu (Keluaran 32:34)
-       Biarlah Tuhan ... mengangkat ... seorang yang mengepalai (memimpin) mereka dan seterusnya (Bilangan 27:17)
-       Tuhan, tuntunlah aku dalam keadilanMu... (Mazmur 5:9)
-       .... Engkau akan menuntun dan membimbing aku (Mazmur 31:4)
-       .... Kiranya RohMu yang baik itu menuntun aku ... (Mazmur 143:10)
-       Demikianlah Engkau memimpin umatMu, untuk membuat Nama yang Agung bagiMu (Yesaya 63:4)
-       Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus .... (I Tawarikh 13:1).
-       Jika hari ini engkau mau menjadi hamba rakyat, mau mengabdi kepada mereka dan menjawab mereka dengan kata-kata yang baik, maka mereka menjadi hamba-hambamu sepanjang waktu (1 Raja-Raja 12:7).
-       Pemimpin disebut sebagai penjaga yang harus waspada kalau-kalau ada yang mengancam kehidupan yang dijaga dan mengingatkan mereka terhadap bahaya yang mengancam. (Yehezkiel 33:7).
-       Pemimpin yang bertanggung jawab tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya tetapi juga bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh orang-orang yang dipinpinnya (Keluaran 16:27-28).
-       Memotivasi/mendorong orang yang dipimpinnya atau yang menjadi bawahannya dengan jujur dan bukan dengan tipu daya, serta memberi semangat agar anggota-anggotanya melakukan pekerjaan dengan baik (Amsal 20:17; 21:6)
-       Bersedia dan rela dikritik oleh orang lain seperti kata Amsal ”Siapa mengindahkan teguran adalah bijak (Amsal 15:5)  tetapi siapa benci kepada teguran akan mati (Amsal 15:10) dan Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan supaya engkau menjadi bijak dimasa depan (Amsal 19:20).
-       Mudah menyesuaikan diri dan tidak kaku (fleksibel) dan terampil dalam berkomunikasi (Amsal 16:24).
-       Berlaku adil dalam memberi tugas/ perintah kepada orang yang dipimpin (Keluaran 18:13-27) dan Seorang pemimpin selalu dituntut untuk bertindak adil terhadap orang-orang yang dipimpinnya (Amsal 11:1).
Alkitab senantiasa menempatkan posisi seorang pemimpin dalam kedudukan antara, yakni antara Allah (Pemimpin yang sesungguhnya) dan umat (manusia). Pemimpin dalam Alkitab bukanlah ”ujung kerucut” dari suatu sistem sebagaimana halnya sistem kepemimpinan dunia. Dalam Alkitab, pengertian pemimpin adalah seorang yang diangkat Allah sebagai ”wakilNya” untuk mempin umatNya, tetapi Allah adalah pemimpin umat yang sesungguhnya. Segala kebijakan dan keputusan berada ditangan Allah. Otoritas ini mutlak milik-Nya. Perhatikan kepemimpinan Nabi Musa dalam Perjanjian Lama. Musa tidak pernah melakukan tindakan berdasarkan pertimbangannya, tetapi selalu berdasarkan amanat, perintah dan petunjuk dari Allah (Keluaran 12:43-51; 13:1-16; 14:15-31; 15:25-26; 16:4-16; 17:4-7).
Dalam sejarah kehidupan Israel, suatu ketika Israel menghendaki adanya seorang Raja/ Pemimpin (I Samuel 8) sebagaimana layaknya bangsa-bangsa yang ada di sekeliling mereka. Permintaan ini mendukacitakan Samuel yang mempunyai kedudukan sebagai Hakim pada waktu itu. Tetapi Allah berfirman kepada Samuel untuk menerima permintaan Israel itu, sebab bukannya Samuel yang mereka tolak melainkan Allah (I Samuel 8-6-7). Permintaan untuk memiliki seorang Raja, adalah perbuatan dosa di mata Tuhan (I Samuel 12:19). Itulah sebabnya, meskipun di antara Israel memerintah seorang Raja (Pemimpin), tetapi Raja/ Pemimpin Israel yang sesungguhnya adalah Tuhan Allah. Raja manusiawi tidak lain hanya melaksankan kehendak Allah, maka sejauh itu apa yang Allah kehendaki, maka pada saatnya pula Allah menurunkan dia dari takhtanya. Contoh Raja Saul (I Samuel 15:11). Namun apablila Raja itu memerintah sesuai dengan kehendak Allah, maka Allah akan memuji-mujinya (contoh Raja Daud).
Seorang pemimpin kristen bukanlah yang harus ditinggikan di atas yang lain, melainkan yang senantiasa berada ditengah-tengah orang yang dipimpinnya untuk memberi teladan, membimbing, menuntun dan mengarahkan mereka kejalan yang benar sesuai dengan kehendak Allah, agar mereka memperoleh hidup dan memperolehnya dalam kelimpahan. Ini berarti pula bahwa tujuan utama kepemimpinan kristen adalah mengusahakan kebaikan dan kesejahteraan hidup bagi orang-orang yang dipimpin (Mazmur 23).
Dengan kata lain, kepemimpinan kristen bertujuan untuk membawa orang-orang yang dipimpin kepada keselamatan dan memelihara keselamatan itu sehingga memperoleh penggenapan di dalam kemulianNya. Karena itu menjadi seorang pemimpin kristen adalah untuk memikul tanggung jawab dan bukannya untuk mencari kedudukan/ kekuasaan. Dalam kepemimpinan kristen, fungsi dan tanggung jawab harus mendahului posisi atau kedudukan. Pemimpin dalam sistem sekuler (dunia) cenderung menggunakan kekuasaan itu untuk menindas orang-orang yang dipimpinnya.
Yehezkiel mengingatkan bagaimana seharusnya seorang pemimpin kristen berperilaku dalam kepemimpinannya agar berkenan kepada Allah dan membawa kebaikan bagi orang-orang yang dipimpinnya, yakni :
-       Pemimpin tidak boleh menindas atau memeras orang-orang yang dipimpinnya. Celakalah pemimpin yang berbuat demikian, karena sebetulnya mereka telah melawan Allah.
-       Pemimpin harus menggembalakan orang-orang yang dipimpinnya, dan bukannya sibuk menggembalakan dirinya sendiri.
-       Pemimpin dengan tekun dan setia mengusahakan jalan agar orang-orang yang dipimpinnya dapat menemukan makna kehidupannya.
-       Pemimpin harus bekerja dengan penuh kesungguhan hati dan bukan karena terpaksa.

A.2.5. Kepemimpinan Musa
Kehidupan Musa dapat dibagi dalam tiga periode selama tiap-tiiap 40 tahun. Sebagai seorang pangeran Mesir, seorang gembala di pengasingan dan seorang pemimpin bangsa Israel. Persiapan-persiapannya untuk menjadi pemimpin bangsa Israel adalah pendidikan yang baik di istana Mesir, pengalaman tinggal di padang gurun dan persekutuannya yang erat dengan Allah. Iman dan kesabaran Musa sangat diuji oleh bangsanya, sekumpulan budak yang mudah ketakutan, plin-plan, bersungut-sungut dan pemberontak. Memikul beban tanggung jawab kesejahteraan fisik dan rohani bangsa Israel, Musa tampil sebagai orang yang lembut hati dan rendah hati, bijaksana dan beriman teguh pada Allah, seorang yang lebih mementingkan kemuliaan Allah daripada kemegahan diri sendiri.
Musa menjadi dewasa dengan memperoleh pengalaman di tempat yang mewah (istana Mesir) maupun di tempat yang sederhana (Midian). Kemudian dia dipanggil Tuhan untuk menjadi pemimpin bangsa Israel, sebagaimana dilaporkan dalam Keluaran 3 dan diringkaskan dalam ayat 30-34. Dialah yang menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Israel dan menyampaikan jawaban bangsa Israel kepada Tuhan. Sebagai penyambung lidah Tuhan tentu saja dia tidak mengurangi atau menambahi sedikitpun kehendak kedua belah pihak.
Ada 3 peristiwa dalam kepemimpinan Musa sewaktu memimpin umat Allah ke luar dari perhambaan dimana Musa membutuhkan bantuan sebagai pendamping/ pemimpin yaitu :
1.      Ketika Musa diberikan Harun untuk membantunya mendatangi Firaun, karena Musa terlampau menekankan keterbatasannya dalam hal kemampuan natural (Keluaran 4:16).
2.      Peristiwa tatkala beban menanggulangi perselisihan selaku seorang hakim menjadi terlampau berat, Musa akhirnya menuruti nasihat ayah mertuanya, Yitro dan menetapkan orang-orang lain untuk membantu (Keluaran 18:14-21).
3.      Bebab rohaniah dalam berdoa syafaat untuk umat Israel sambil berupaya mengembangkan karakter mereka telah menjadikan Musa kewalahan dan jawaban Allah menunjukkan tujuh puluh tua-tua Israel guna mendampingi Musa (Bilangan 11:14-17).
Dalam Keluaran 15-17 Musa mengalami keputusasaan dalam memimpin bangsa yang gemar bersungut-sungut. Sikap mereka yang buruk menambah beban kepemimpinannya dan penderitaan mereka sendiri. Melalui pengalaman tersebut Musa mempelajari keterbatasan kepemimpinan manusia dan menyadari kebergantungannya pada Allah. Dia juga mempelajari nilai dukungan rekan-rekan sepelayanannya melalui pertolongan Harun dan Hur.
Dalam Keluaran 32-34 Musa menolak kesempatan untuk meninggalkan bangsa yang pemberontak dan bebal tersebut dan pergi sendiri dengan Allah. Musa juga menolak godaan untuk berpikir bahwa ia dapat bertahan dengan bangsa tersebut tanpa hadirat Allah. Musa tidak dapat hidup sendiri tanpa Allah dan tidak dapat bebas dari tanggung jawab kepada orang lain, juga ia tidak dapat hidup dalam kekuasaan politik tanpa kekuatan yang datang dari persekutuan pribadinya dengan Allah. Cara hidup Musa seperti dalam Keluaran 33:15 ”Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini”, Musa tidak akan mau pergi kemanapun, sekalipun ke Kanaan yang dijanjikan Allah, tanpa jaminan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka.
Dalam Bilangan 11-14 Musa diuji kepemimpinannya, kebesaran Musa nampak berkali-kali ketika beban kepemimpinannya menjadi semakin berat, Allah menaruh RohNya di atas 70 tua-tua Israel untuk menolong Musa memerintah bangsa itu. Tidak seperti banyak orang yang tidak cukup kemampuan untuk melepaskan kekuasaan kepada orang-orang lain, Musa sangat bahagia menerima pemimpin-pemimpin tersebut dan memuliakan Roh Allah yang ada pada mereka. Ketika Miryam dan Harun mengata-ngatai dia, Musa tidak membalas dendam dan ia memohon pengampunan untuk Miryam yang kena kusta akibat hukuman Allah. Penolakan Musa untuk mencari kedudukan dan kemuliaan bagi diri sendiri membuat Allah bebas membela Musa dan ini lebih efektif daripada yang mungkin dilakukan Musa. Walupun bangsa Israel menolak untuk memasuki tanah perjanjian kemana Allah telah memimpin mereka keluar dari perbudakan di Mesir, Musa tidak menolak mereka ketika Allah menawarkan kesempatan padanya. Doa Musa mencegah kehancuran mereka dan ia rela menerima hukuman perjalanan 40 tahun di gurun bersama-sama mereka.
Musa memilih menderita sengsara bersama umat Allah daripada untuk menikmati kesenangan dosa. Sikap ini menunjukkan kejujuran Musa terhadap umat Allah yang dipercayakan kepadanya untuk dibimbing dan dipimpin. Kehidupan Musa membuktikan segi-segi yang dibutuhkan dalam kepemimpinan yang efektif. Saat Allah memanggil Musa Ia memampukan Musa untuk tugas yang diberikan.

A.2.6. Kepemimpinan Nehemia
Nehemia mengungkapkan seluruh keberadaan dirinya di dalam catatan hariannya, yang tergabung dalam sebuah kitab Nehemia. Sama seperti jutaan orang Yahudi sepanjang sejarah, Nehemia menyadari akan masalah orang-orang yang tergolong minoritas. Dan sama seperti kebanyakan orang Yahudi, ia juga tahu apa artinya mencapai keberhasilan. Ia telah mencapai suatu kedudukan yang terkemuka yaitu sebagai juru minuman bagi seorang raja Persia yaitu raja Artahsasta I, penguasa yang paling kuta pada zaman itu. Sebagai seorang juru minuman, Nehemia bertugas untuk mencicipi air anggur dari cawan raja (587 sM) bangsa Babel telah menjarah Yerusalem dan Kerajaan Yehuda yang di selatan itu, lalu membawa penduduknya ke pengasingan.  Tetapi setelah Babel jatuh ke tangan orang Persia, Raja Koresy mengubah total garis kebijaksanaan Babel dan pada tahun 538 sM mengizinkan beberapa rombongan orang Yahudi untuk pulang ke Yerusalem. Tindakan mereka yang pertama-tama ialah mendirikan sebuah mezbah dan membangun kembali bait Allah. Perhatian mereka selanjutnya ditujukan pada kota itu agar mempunyai daya pertahanan lagi. Dan pada tahun 445 sM Nehemia datang ke Yerusalem untuk menyelesaikan tugas membangun tembok-tembok kotanya.
Dalam Nehemia Pasal 1, pada waktu kisah ini dimulai Nehemia adalah seorang pemimpin yang masih dalam masa pendidikan. Ketika dia mendengar berita tentang tembok Yerusalem yang telah rusak terbongkar, pintu-pintu gerbang yang terbakar dan penduduknya yang sedang menderita tekanan batin serta perasaan malu, berita itu dirasakan Nehemia sebagai pukulan jasmani sehingga selama beberapa hari ia menangis, berkabung, berpuasa dan berdoa (1:4). Allah membuka hati Nehemia terhadap tragedi bangsanya, tragedi yang makin mencemarkan nama Allah. Allah memberikan kemampuan kepadanya untuk dapat merasakan apa yang memprihatinkan Allah dan tertarik masuk ke dalam jalur yang mengarah ke tujuan Allah. Nehemia berdoa dan mengakui dosa bangsa-bangsanya, ia memiliki rasa turut bertanggung jawab bahkan tidak mempedulikan nasib dirinya sendiri sementara ia memohon bagi bangsanya. Allah memakai kehidupan doa Nehemia yang aktif untuk membentuk dia menjadi seorang pemimpin yang saleh dan takut akan Tuhan.
Dalam pasal 2, Nehemia adalah orang yang cepat bertindak, segera setelah ia mendapat persetujuan raja mengenai rencananya, dia merundingkan segala perlengkapan yang diperlukan, mengatur keselamatan perjalanan itu, menyusun rencana masa yang akan datang, mengerahkan tenaga kerja yang besar dan membagi proyek pekerjaan masal yang sangat besar itu ke dalam unit-unit yang mudah ditangani. Ada 3 unsur yang menjadikan segalanya tertib yaitu :
(1)   Pikirannya mengarah ke masa depan dalam doanya (2:1-10)
(2)   Melakukan dulu penyelidikan yang cermat mengenai situasi (2:11-16)
(3)   Tugasnya memberi motivasi kepada orang-orang sebelum menyerahkan pekerjaan itu (2:17-18)
Nehemia adalah pemimpin yang baik, pemimpin yang baik melakukan penelitian sendiri. Tiga hari setelah tiba di Yerusalem, ia pergi pada malam hari untuk melakukan penyelidikan secara rinci mengenai tembok itu. Amanatnya kepada penduduk Israel dalam 2:17-18 menunjukkan bahwa ia sungguh ahli dalam segala kesederhanaan serta ketegasannya. Hal itu terdiri dari 4 unsur yaitu : (1) kepekaan batin untuk mempersamakan diri yang menjalar kepada orang lain, (2) pengakuan mengenai keadaan Yerusalem yang sudah sangat gawat (3) permintaan untuk mengambil langkah khusus (4) kesaksian pribadi. Nehemia seorang pemimpin yang memimpin bukan seseorang yang hanya mendorong dari belakang, ia bukan hanya mempersamakan dirinya dengan bangsanya melainkan juga memimpin dengan menjadi teladan. Dan ia memanggil mereka untuk ikut dengan dia. Dalam pasal 3 dan 4, Nehemia sasarannya ialah membuat Yerusalem mempunyai daya pertahanan lagi, untuk itu Nehemia membagikan tugas-tugas pekerjaan kepada orang-orang lain dan ia sendiri pun ikut serta mengerjakannya. Nehemia mendelegasikan, menyerahkan wewenang serta tanggung jawab dan membagi-bagikan pekerjaan. Paling sedikit ada tiga puluh sembilan kelompok pekerja yang terlibat dalam pekerjaan itu.
Sebagian dari pekerjaan Nehemia berupa administrasi. Ia seorang pengatur yang sangat cermat dan seorang pencatat yang saksama (7:5). Sebagian dari pekerjaannya juga berupa doa dan puasa (1:5-11). Sebagian lagi dari pekerjaannya ialah mengawasi atau memandori. Dialah yang mengambil tanggung jawab untuk memastikan bahwa pekerjaan itu maju di semua bagian tembok Yerusalem, bahwa kesulitan-kesulitan di satu bagian jangan sampai menghambat bagian yang lainnya. Jadi doa, administrasi, pengawasan di tempat dan kerja fisik semuanya merupakan bagian dari satu keutuhan. Dalam pasal 5, perintah Nehemia untuk membangun tembok kota Yerusalem diiringi dengan pengangkatannya sebagai bupati (atau kepala daerah) Tanah Yehuda. Lama masa jabatannya yang pertama ialah 12 tahun (5:14). Kedudukan itu memberi hak kepadanya untuk memungut pajak-pajak tertentu bagi menutup biaya pemerintahan, misalnya bila ada pengeluaran untuk pesta menjamu serta menghibur orang dan keramahan sebagai tuan rumah. Tetapi Nehemia menolak berbuat seperti itu. ”Aku dan saudara-saudaraku tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak bupati. Tetapi para bupati yang sebelumnya, yang mendahului aku, sangat memberatkan beban rakyat. Bupati-bupati itu mengambil dari mereka 40 syikal perak sehari untuk bahan makanan dan anggur” (5:14-15). Pikiran Nehemia hanya tertuju pada setia mengabdi sebagai saksi Allah dan menolong mereka yang sedang dalam keadaan putus asa. Karena pikirannya yang demikian itu, maka musuh-musuhnya tidak dapat menarik dia menyimpang dari tujuannya, juga kekayaan dan kehormatan tidak dapat menjeratnya. Ia berada di Yerusalem bukan untuk mengambil, melainkan untuk memberi. Ia bukan saja abdi Allah, melainkan juga abdi masyarakat. Jarang sekali ada pejabat pemerintah seperti dia, yang memiliki jiwa seorang gembala. Pada masa tuanya Nehemia dipuji atas keberaniannya, ketegasannya, kesediaannya untuk menghadapi masalah-masalah dan mengambil tindakan terhadap hal-hal itu. Bahkan caranya bertindakpun dapat dibenarkan. Sampai akhir hidupnya Nehemia tetap menjadi pemimpin yang mampu mengambil jalan yang tidak disenangi orang lain dan memang sering ia melakukannya bila ia memandang hal itu perlu.
Prioritas Nehemia adalah prioritas Allah. Pada waktu orang dengan mudah dapat menjadi patah semangat, tidak mau bertindak dan membiarkan masalah-masalah itu lewat saja, Nehemia mengambil tindakan yang tepat serta efektif untuk membereskan apa yang masih kurang. Sejak mula pertama kepemimpinannya mengungkapkan kebijaksanaan untuk melakukan terlebih dulu apa yang perlu diutamakan. Ia menerima prioritas-prioritas Allah, apakah itu menyenangkan orang banyak atau tidak, apakah itu menguntungkan dia secara pribadi atau tidak. Nehemia seorang pemimpin dengan semangat dan konsisten dengan visinya dan kuat dengan doa-doanya.

A.2.7. Kepeminpinan Daniel
Daniel memberi teladan praktis dan bersifat pribadi bagi pergumulan kita. Ia adalah contoh dari orang yang karirnya mencapai posisi dengan kekuasaan dan prestise besar dalam sistem dunia, namun yang tidak pernah mengkompromikan prinsip-prinsip dasar Alkitab. Ia menunjukkan kepada kita cara menjalani hidup rohani yang utuh di bawah tekanan dunia sekuler. Mereka yang mengalami godaan untuk menyerah terhadap tekanan semacam itu akan banyak belajar dari Daniel.
Pelayanan Daniel di Babel berlanjut dari 70 tahun penjajahan Babel sampai masa pemerintahan Persia. Daniel hidup sehat sampai usia 80 atau 90 tahun. Fokus utama nubuat Daniel adalah pada orang-orang kafir. Dalam setiap keadaan dan dalam setiap krisis, Daniel mengarahkan kita pada Allah yang secara berkuasa bekerja dalam sejarah manusia. Daniel sanggup menolak sikap berkompromi karena hubungannya dengan Allah yang maha kuasa. Ketaatan Daniel secara sederhana merupakan pernyataan keberadaan Allah yang maha kuasa. Dia memandang Tuhan sebagai Raja di atas segala raja dunia dari Babel. Dalam pasal 1, Daniel dan kawan-kawannya dipisahkan dari tempat asal mereka dan dibawa ke Babel pada waktu mereka muda. Kemungkinan mereka baru berusia antara 12-14 tahun. Di Babel mereka harus menjalani program pelatihan selama 3 tahun untuk mempersiapkan mereka menangani persoalan bangsa Yahudi dalam kekaisaran Babel. Dan pada saat menghadapi makanan yang pertama kali disajikan, suara hati mereka berontak.
Dalam pasal 5, Daniel sudah tua lebih dari 80 tahun usianya, Raja yang menggantikan Nebukadnezar memandang sebelah mata padanya. Daniel dipindahkan ke bagian yang tidak berarti dalam struktur birokrasi Babel, namun ketika raja menemui masalah, ia memanggil Daniel. Daniel menunjukkan pada kita bagaimana hidup berpegang teguh pada Allah selama masa pembuangan yang panjang.         
Nabi Daniel adalah contoh manusia yang memiliki pribadi yang utuh/ berintegritas karena Daniel :
1.      Adalah seorang yang beriman dan taat kepada Allah sehingga mampu menjaga dan memelihara integritas dan kredibilitasnya sepanjang waktu. (Daniel 5:11-12).
2.      Tidak terdapat cacat cela (tidak bercacad) karena ia setia kepada Allah dan memiliki Roh Kebenaran (Daniel 6:4-5).
3.      Rajin dan tekun berdoa, karena menyadari bahwa doa merupakan sumber kekuatan dalam menghadapi pelbagai ancaman dalam hidupnya (Daniel 6:10-12).
4.      Siap dan rela berkorban untuk sesuatu yang dianggapnya baik dan benar dihadapan Allah (Daniel 6:14-17).
5.      Mampu menyatukan (mengintegrasikan) pelayanannya kepada Allah dan pelayanannya kepada manusia (Daniel 6:23)..

Pemimpin yang memiliki integritas, yakni kepribadian yang utuh (kepribadian yang tidak terpecah), adalah pemimpin yang berani mengatakan YA di atas YA dan TIDAK di atas TIDAK. Pemimpin seperti ini akan berhasil dalam kepemimpinannya.
Integritas penting dan perlu dimiliki oleh seorang pemimpin karena :
1.      Allah menghendaki pemimpin memiliki integritas yakni : Ketulusan, kebenaran, kesetiaan, kemurnian hati, kesalehan, kejujuran dan tidak mencari muka. Dalam 1 Raja-Raja 9:4-5 dikatakan ”Mengenai engkau, jika engkau hidup dihadapanKu sama seperti Daud, ayahmu dengan tulus hati dan dengan benar, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu dan jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturanKu, maka Aku akan meneguhkan kerajaanmu atas Israel untuk selama-lamanya seperti yang telah Kujanjikan kepada Daud, ayahmu, dengan berkata : Keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel”.
2.      Karena pemimpin yang memiliki integritas akan memimpin dengan penuh percaya diri. Amsal 10:9 ”Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya...” dan Amsal 28:1 ”Orang fasik lari walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman...”. Jadi integritas memberi kuasa dalam perkataan dan memberi kekuatan dalam perencanaan kerja dan pelayanan.
Pemimpin yang memiliki integritas tidak memisahkan kehidupan pribadi dari kehidupan bersama dimana pemimpin yang memiliki integritas akan menampilkan dirinya sebagaimana adanya dan tidak dibuat-buat pada setiap situasi yang dihadapinya. Contoh pemimpin yang memisahkan kehidupan pribadinya dari kehidupan bersama adalah Raja Saul. Ia lebih memperhatikan ”public image’nya daripada kondisi nyata dirinya. Pemimpin seperti Saul akan bertindak/berperilaku lain manakala ia berada di antara orang-orang yang memperhatikannya. ”Aku telah berdosa, tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku ....” (I Samuel 15:30).
Pengorbanan Untuk Menjadi Seorang Pemimpin Yang Berhasil :
1.      Berani Seorang Diri, sebagai seorang pemimpin adakalanya seorang diri berjuang untuk suatu tujuan, bahkan ketika tidak seorangpun bersedia melangkah maju, sang pemimpinlah yang selalu melakukannya, inilah salah satu biaya besar kepemimpinan dan inilah pula tanda pengenal dari seorang pemimpin. Daud bersedia melawan Goliat ketika tak seorangpun mau melakukannya (1 Samuel 17:32) ”Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu”.
2.      Menentang Pendapat Umum, tidaklah mudah untuk bertahan terhadap derasnya arus pendapat umum bila itu menentang Anda tetapi adakalanya perlu bersikap demikian. Yosua bukanlah seorang pemimpin hanya karena ia menjadi kepala dari sebuah bangsa, ia seorang pemimpin karena ia bersedia membayar harganya. Ia bersedia menentang pendapat umum demi mempertahankan dan memajukan hal yang dipercayainya. Yosua 24:15Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada Tuhan, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah : allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”.
3.      Menanggung Risiko Kegagalan, semua manusia dapat gagal sekalipun mereka adalah pemimpin-pemimpin besar, Abraham pernah gagal (Kejadian 12:10-13; 16:1-6), Musa pernah gagal (Keluaran 2:11-12; Bilangan 11:10-23), Daud juga pernah gagal (2 Samuel 11:21). Tanda seorang pemimpin yang baik bukanlah bahwa ia bebas dari kegagalan. Bukti nyata dari kepemimpinan ialah cara pemimpin itu menangani kegagalan. Mereka belajar dari kegagalan mereka dan Allah terus memakai mereka sebagai pemimpin yang berhasil guna.
4.      Menguasai Emosi, apapun yang dirasakan, para pemimpin yang baik berusaha keras untuk dituntun oleh fakta dan prinsip. Jika kita membiarkan emosi menguasai diri kita maka kita akan makin mudah untuk melakukan kekeliruan dalam penilaian bahkan terlibat dalam kegagalan yang parah. Amsal 14:29 ”Seorang yang bijaksana menguasai kemarahannya”. Ia mengetahui bahwa kemarahan menyebabkan kesalahan. Amsal 4:23Di atas segala yang lain, jagalah perasaanmu, karena perasaan mempengaruhi semua hal yang lain dalam hidupmu”.
Tetap Tidak Bercela, pemimpin giat berusaha agar tetap dalam keadaan tidak bercela.

A.2.8. Gembala
Istilah Gembala dalam bahasa Inggris Shepherd berarti domba sedangkan Ibrani kuno ra’ah artinya memberi makan sehingga Gembala dikenal sebagai orang yang memberi makan dan dapat ditujukan kepada individu yang membantu atau memelihara orang lain dimana seseorang yang memperlihatkan kepedulian yang penuh kasih sayang. Deskripsi tugas dari kepemimpinan pastoral ada di 1 Petrus 5:1-8 yaitu memelihara dan mengawasi. Kata memelihara menunjukkan fungsi seorang gembala yaitu menyediakan makanan bagi domba-dombanya.
Tugas dan Tanggung jawab Gembala Jemaat :
-       Memimpin kawanan domba Tuhan ke padang rumput dimana mereka dapat diberi makan secara rohani.
-       Melindungi kawanan domba, menurut gambaran Alkitab, jika gembala menelantarkan kawanan dombanya mereka tidak akan mati kelaparan,  bahaya yang lebih cepat dihadapi kawanan domba itu lebih disebabkan oleh kurangnya perlindungan.
-       Memerintah atas mereka yang dipercayakan Tuhan
-       Menjadi teladan dalam mengikuti ketuhanan Kristus.
-       Memberikan waktu kepada anggota jemaatnya untuk mempersatukan Firman dengan lebih penuh ke dalam kehidupan mereka masing-masing.
-       Harus Injili dimana karyanya harus meliputi mencari yang terhilang yang berarti kepedulian gembala terhadap mereka yang tersesat seharusnya tidak terpuaskan sampai orang berdosa itu diselamatkan.
-       Harus terlibat di dalam pelayanan rekonsiliasi (pendamaian), panggilan seorang gembala ialah agar ia pergi keluar dan membawa pulang individu yang tersesat.
-       Meliputi pelayanan penyembuhan dan penguatan.
-       Membedakan kebutuhan setiap anggotanya dan dengan cermat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan mereka masing-masing.
-       Menjaga kandang dombanya.
Dalam Mazmur 23, kita belajar bukan hanya tentang sifat Allah. Melainkan juga tentang kepemimpinan-Nya. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru menggunakan istilah “gembala” untuk menggambarkan kepemimpinan. Kata itu mengkomunikasikan kasih, pemeliharaan dan penjagaan rohani yang diberikan seorang pemimpin ilahi. Itu melibatkan baik gada (perbaikan) maupun tongkat (pengarahan). Mazmur 23 menggambarkan Gembala Utama melaksanakan beberapa fungsi, dimana Sang Gembala :
-       Memberikan kebutuhan
-       Memimpin dengan penuh keyakinan
-       Menuntun dan memberikan pengarahan
-       Memberi makan dan mengurapi
-       Mengasihi tanpa syarat
-       Memberikan kelegaan
-       Memperbarui dan memperbaiki
-       Melindungi dari bahaya
-       Mengoreksi dan menghibur
-       Memberikan naungan permanen
Pesan dari Yehezkiel 34 merupakan pernyataan utama mengenai penggembalaan, mereka yang memimpim bangsa Yehuda termasuk para penguasa maupun pemimpin agama mempunyai fungsi penggembalaan yang bertanggung jawab untuk memelihara rohani bangsa umat Allah. Celakalah gembala yang memberi makan dirinya sendiri (Yeh 34:1-3) dimana :
(1)         mereka mengambil bagi diri sendiri sumber-sumber yang terbaik
(2)         para gembala mengambil bulu wol yang melindungi si domba dan mereka menggunakannya untuk melindungi diri sendiri
(3)         para gembala mengambil nyawa domba-dombanya
Gembala yang menelantarkan kawanan dombanya (Yeh 34:4-10)
(1)   yang lemah tidak kamu kuatkan
(2)   yang sakit tidak kamu obati
(3)   yang luka tidak kamu balut
(4)   yang tersesat tidak kamu bawa pulang
(5)   yang hilang tidak kamu cari
(6)   kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman
(7)   Allah menjadi lawan yang tidak lagi menopang dan membimbing gembala
(8)   Gembala bertanggungjawab atas konsekwensi kesalahannya
(9)   Allah menghentikan fungsi para gembala
(10)     Allah menyingkirkan kemampuan para gembala dalam hal menggembalakan dirinya sendiri.
Akibat pengabaian para gembala domba-domba berserak dan mati terbunuh. Berserak bukan hanya menandakan bahwa domba-domba itu berkelana tetapi juga menandakan bahwa domba-domba itu berlari ke berbagai arah. Mereka lari dalam ketakutan dan keputusasaan karena tidak ada kepemimpinan dan pemeliharaan. Mereka ditelantarkan tanpa perlindungan. Bahaya yang mengancam bukan hanya bahaya kelaparan tetapi bahaya pembunuhan.
Allah membuat deklarasi yang penuh kuasa bahwa kawanan domba adalah milik-Nya (Yeh 34:10b), Allah digambarkan sebagai gembala umat-Nya yang melindungi, memberi makan dan menyelamatkan mereka dari bahaya (Yeh 34:12b-15), pesan utama Yehezkiel 34 bahwa Allah adalah gembala umat-Nya sekalipun gembala manusiawi gagal, Allahlah gembala terakhir bagi umat-Nya.
Kristus adalah Gembala Agung dari gereja, namun demikian Ia juga menggunakan gembala-gembala manusiawi. Ide bahwa Allah menyediakan para gembala untuk gereja-gereja adalah hal mendasar untuk memahami pentingnya kelembagaan dan fungsi gembala di dalam Perjanjian Baru.
Di masyarakat pada zaman Perjanjian Baru, pekerjaan gembala dipandang rendah. Pekerjaan gembala dianggap merendahkan martabat dan pada umumnya dianggap hina. Namun demikian, gereja Perjanjian Baru mempunyai pandangan yang mulia dan kudus terhadap pekerjaan penggembalaan dengan menggunakan perspektif Perjanjian Lama yang dua fungsi utama gembala adalah melindungi dan memberi makan.
Istilah kawanan domba, “poimnion, mempunyai akar kata yang sama dengan kata gembala “poimaino. Kawanan domba berada dalam pemeliharaan gembala. Hal ini menciptakan hubungan vital antara domba dan gembalanya suatu hubungan yang bahkan lebih kuat dibanding kebutuhan akan rumput atau makanan. Kawanan domba Tuhan ditakdirkan untuk dikerja-kejar dan dianiyaya (Mat. 26:31). Mereka dipelihara oleh Gembala yang Baik (Yoh. 10:16). Kawanan domba itu dipelihara oleh gembala yang sebagai balasannya mendapat upah yang sepadan (1 Kor. 9:7). Kawanan domba itu dapat dengan aman mempercayai Allah untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kekal mereka (Luk 12:32). Kawanan domba itu dibeli dengan darah Kristus dan gembala dari kawanan domba itu telah diangkat oleh Roh Kudus untuk memelihara mereka (Kis 2:28; 1 Pet 5:2). Mereka terancam bahaya serangan dari serigala (Kis 20:29). Akhirnya kawanan domba itu harus dipimpin melalui teladan gembalanya (1 Pet. 5:3)
Kristus sebagai dasar penggembalaan Perjanjian Baru, prinsip-prinsip penggembalaan sebagaimana terdapat dalam Yohanes 10:1-29 adalah :
-       Yesus menekankan perihal gembala yang sejati sebagai lawan gembala yang mempunyai motif yang egois dan tersembunyi.
-       Karakter gembala sejati menjadikannya seorang gembala penjaga.
-       Gembala sejati mempunyai komitmen untuk memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.
-       Tujuan gembala yang baik ialah untuk memberi hidup yang berkelimpahan kepada kawanan domba itu.
-       Gembala yang penuh kasih berusaha untuk memberi keamanan kepada dombanya dan berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
-       Gembala yang menelantarkan dombanya secara langsung dan tak langsung telah menempatkan kawanan dombanya dalam ancaman bahaya.
-       Gembala jemaat tidak boleh kehilangan cinta kasihnya kepada orang-orang yang ada di luar jemaat.
-       Tindakan Pastoral harus didasarkan pada kasih yang memelihara hubungan dengan Allah dan ketaatan kepada perintah-perintah Allah.
-       Mengenali kehadiran Allah yang aktif ditengah-tengah jemaat adalah tujuan utama dari tindakan penggembalaan.
Panggilan seorang gembala jemaat berakar di dalam wewenang Allah. Dasar panggilan Yesaya ialah suara Allah (Yes. 6:1-4) ; Pelayanan Amos juga diawali dengan penugasan dari Allah (Amos 7:14-16); Allah menugaskan Yehezkiel untuk berkhotbah sekalipun umat-Nya tidak mau mendengarkan (Yeh. 2:2-3); di dalam Perjanjian Baru asul-usul panggilan untuk pelayanan pemberitaan Firman berakar di dalam penugasan Allah langsung (Roma 10:14). Wewenang gembala dapat disalahgunakan dan diselewengkan dan sebagian orang berusaha memanipulasinya untuk keuntungan yang egois. Namun demikian, penugasan seorang gembala jemaat tidak bersumber dari pikiran manusia tetapi dari belas kasihan Allah dan perintah-Nya.
Paulus menentang orang-orang yang menyalahgunakan pemberitaan Injil (Fil. 1:15-20 dan 2 Tim 3:1-10), Paulus mengklaim bahwa panggilannya berasal langsung dari Allah (1 Tim 1:1; 2 Tim 1:1). Gembala jemaat dan para pelayan gereja masa kini harus mengajukan klaim yang sama walaupun orang lain menyalahgunakan pemberitaan Injil. Allah yang kekal, kegiatan penggembalaannya harus dipenuhi dengan Roh Kudus.

A.2.9. Integritas
            Integritas berarti kejujuran; mutu, sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki kemampuan yang memancarkan kewibawaan.[22]
Pdt. Prof. Dr. Ir. Bambang Yudho, M.Sc., M.A., Ph.D mengatakan bahwa Integritas berasal dari bahasa Latin “integrare” yang artinya “menjadi utuh” dan diadopsi ke dalam bahasa Inggris sebagai “integrity”. Jadi integritas adalah tentang suatu kesatuan yang utuh (a whole). Pemimpin dengan integritas adalah seorang yang mempunyai kepribadian utuh dalam kata dan perbuatan. Sebagaimana perilakunya di depan umum, begitulah kenyataan kehidupannya. Sebagai seorang pemimpin, ia selalu melakukan apa yang dikatakannya dan mengatakan apa yang dilakukannya. Integritas merupakan tulang punggung dari seorang pemimpin Kristen. Dengan lain kata bahwa integritas juga merupakan tiang utama (main post) berbagai macam jenis pelayanan kerohanian, bakan juga di bidang sekuler.[23]
Kalau saya punya integritas, kata-kata dan perbuatan saya sesuai, saya adalah diri saya, tidak peduli di mana diri saya atau bersama siapa. Seseorang yang punya integritas tidak membagi loyalitas (itu sikap mendua), ataupun dia hanya pura-pura (itu kemunafikan). Orang yang memiliki integritas adalah orang yang utuh; mereka bisa diidentifikasi dengan kesatuan pikirannya. Orang yang memiliki integritas tidak punya apa pun untuk disembunyikan dan tidak punya apa pun untuk ditakuti. Kehidupan mereka seperti buku terbuka. V. Gilbert Beers mengatakan, “Seseorang yang punya integritas adalah orang yang menetapkan sistem norma untuk menilai semua kehidupan.”[24]

A.2.10. Dimensi Kepemimpinan Yang Berintegritas
Integritas adalah reputasi kredibilitas, moralitas tinggi, kejujuran dan karakter yang menurut karakter Kristus. Integritas sangat penting untuk menjadi pemimpin yang sukses. Orang yang dipimpin harus tahu bahwa yang memimpin mereka dapat diandalkan, dapat dipercayai. Kalau seorang pemimpin kehilangan integritas maka pemimpin tersebut kehilangan kapasitas untuk berfungsi dengan baik. Untuk mempertahankan integritas, seorang pemimpin harus mengikuti nasihat Yohanes dalam 1 Yohanes 1:7 “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa”.[25]
Kepemimpinan rohani memiliki dua dimensi, yaitu “Perintah Allah” sebagai dimensi Illahi dan “Tanggapan manusia atas pilihan dan perintah Allah” sebagai dimensi manusia. Sebagai pemimpin Kristen yang baik, haruslah memerhatikan segi “dimensi manusia” dengan menjaga “integritas” kehidupan, karena Allah selalu memilih manusia dengan “integritas” yang baik.[26]
Integritas bukanlah apa yang kita lakukan melainkan lebih banyak siapa diri kita. Dan siapa diri kita, pada gilirannya menetapkan apa yang kita lakukan. Sistem norma kita merupakan sebagian besar dari diri kita yang tidak bisa dipisahkan dengan diri kita. Ini menetapkan prioritas dalam kehidupan kita dan menilai apa yang akan kita terima atau kita tolak.
John C. Maxwell mengatakan delapan puluh persen dari apa yang dipelajari orang datang melalui stimulasi visual, 10 persen melalui stimulasi pendengaran, dan 1 persen melalui indera lainnya. Maka merupakan hal yang masuk akal bahwa semakin banyak pengikut meliat dan mendengar pemimpinnya konsisten dalam tindakan dan perkataan, akan semakin besar pula konsistensi dan loyalitas mereka. Apa yang mereka dengar, mereka pahami. Apa yang mereka liat, mereka percayai. Terlalu sering kita berusaha memotivasi pengikut kita dengan sarana yang cepat mati dan dangkal. Yang diperlukan orang bukanlah motto untuk dikatakan, melainkan teladan untuk dilihat.[27]
Semakin bisa dipercaya diri anda semakin besar pula kepercayaan orang lain yang ditempatkan pada diri anda, dengan demikian memungkinkan diri anda memiliki hak istimewa mempengaruhi kehidupan mereka. Semakin kurang di percaya diri anda, semakin kurang pula kepercayaan yang ditempatkan orang lain pada diri anda dan makin cepat anda kehilangan kedudukan untuk mempengaruhi.
Beberapa alasan mengapa integritas begitu penting :[28]
a.       Integritas Membina Kepercayaan
b.      Integritas Punya Nilai Pengaruh Tinggi
c.       Integritas Memudahkan Standar Tinggi
d.      Integritas Menghasilkan Reputasi Yang Kuat, Bukan Hanya Citra
e.       Integritas Berarti Menghayatinya Sendiri Sebelum Memimpin Orang Lain
f.       Integritas Membantu Seorang Pemimpin Dipercaya, Bukan Hanya Pintar
g.      Integritas Adalah Prestasi Yang Dicapai Dengan Susah Payah
Mengapa integritas sangat penting, menurut Pdt. Prof. Dr. Ir. Bambang Yudho, M.Sc., M.A., Ph.D ada 3 hal, yaitu :[29]
a.    Tuhan selalu memperhatikan integritas manusia yang dipilih-Nya menjadi seorang pemimpin. Dalam Kitab 1 Raja-raja 9:4-5 dikatakan : “Mengenai engkau, jika engkau hidup dihadapan-Ku sama seperti Daud, ayahmu, dengan tulus hati dan dengan benar, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturan-Ku, maka Aku akan meneguhkan takhta kerajaanmu atas Israel untuk selama-lamanya.....” Tuhan Yesus juga merupakan teladan yang sempurna, seperti terdapat di dalam Matius 22:16b, yang berkata : “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun”. Rasul Paulus di dalam 2 Korintus 1:12, juga mengatakan : “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh kekudusan dan kemurnian dari Allah”.
b.    Seorang dengan integritas akan memimpin orang lain dengan penuh kepercayaan. Ia akan melangkah tanpa rasa khawatir. Amsal 10:9 mengatakan : “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui” dan Amsal 28:1 juga dikatakan : “Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda”.
Alkitab terus-menerus mengingatkan kita untuk menjalankan kehidupan yang sepadan dengan panggilan kita, “Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh 2:6). Ini adalah mengenai iman yang dijalankan, kebenaran yang diterapkan dalam tindakan, kesalehan dalam menjalani kehidupan di tempat kerja. Jemaat Kristen mula-mula tentu saja harus menjalani hidup mereka secara konsisten. Ada hubungan yang erat antara kekudusan dan misi. Gereja mula-mula sangat diperhatikan gerak-geriknya. Kehidupan mereka, pekerjaan mereka, keluarga mereka, respon mereka ketika berada dalam tekanan; semua ini harus mendukung pesan radikal yang mereka sampaikan pada abad pertama.
Paulus juga sangat menyadari bahaya yang diadapi pemimpin umat Kristen. Ketika berbicara kepada para penatua di Efesus, ia menekankan, “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Ro Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah” (Kis. 20:28). Ia mengatakan hal yang sama kepada Timotius : “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu... Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu” (1 Tim. 4:12,16). Perintahnya sangat penting dalam kedua nasihat tersebut : awasilah kehidupanmu, kesalehanmu, keberlangsungan kehidupan rohanimu terlebih dahulu.
Di semua lapisan masyarakat ada seruan yang kuat agar para pemimpin, baik di bidang usaha, politik atau agama, hidup berintegritas. Integritas dipandang sebagai kualitas yang sangat mendasar dan penting dalam kepemimpinan. Kita tidak perlu terkejut bila integritas dinilai tinggi dalam sektor usaha.
Dalam bukunya yang berjudul Transforming Leadership, Richard Higginson mendaftarkan beberapa pernyataan misi dari perusahaan-perusahaan terkemuka :
c.         “Integritas tidak bisa dikompromikan. Usaha-usaha yang dijalankan oleh perusahaan kami di seluruh dunia harus dilaksanakan dengan sikap yang bertanggungjawab secara sosial dan menjunjung tinggi integritas serta berkontribusi positif pada masyarakat.” (Ford Motors)
d.        “Perusahaan Shell mengutamakan kejujuran dan integritas dalam semua aspek usahanya.”
e.         “Kami menjalankan usaha dengan penuh integritas. Di setiap tingkat jabatan para pekerja diarapkan setia pada etika-etika standar bisnis yang tertinggi dan harus memahami bahwa segala sesuatu yang di bawah standar sama sekali tidak bisa diterima.” (Hewlett Packard)
Integritas juga merupakan hal yang sangat diperhatikan dikalangan para pegawai. Penelitian menunjukkan bahwa, ketika para pegawai ditanyai mengenai apa yang paling mereka kagumi dari seorang pemimpin, maka integritas merupakan salah satu dari tiga kualitas yang paling sering disebutkan. Bagi kebanyakan pegawai tersebut integritas berarti bertindak jujur, mereka menginginkan atasan mereka bersikap jujur dengan pegawainya, dan juga bersikap konsisten. Pemimpin-pemimpin dalam bidang usaha atau politikus atau para hamba Tuhan sebaiknya tidak mengatakan hal yang sama sekali berbeda dengan apa yang mereka katakan keesokan harinya.
Integritas bisa berarti keadaan yang utuh dan lengkap. Satu definisi dari kata ‘integral’ adalah sangat mendasar atau sangat penting untuk keadaan yang lengkap; utuh; sempurna; tidak ada yang kurang; menyeluruh. Dalam pengertian ini, integritas menyatakan kehidupan yang menyatu dengan baik. Ada keterkaitan antara bagian-bagian yang berbeda dari kehidupan seseorang. Sistem nilai yang kita anut akan membentuk setiap segi kehidupan kita, baik di depan umum maupun dalam kehidupan pribadi. Ada kekompakan antara kepribadian kita dan cara hidup kita.
Integritas juga bisa memiliki arti lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Kita menggunakannya untuk menggambarkan kualitas yang berhubungan dengan kebenaran dan moralitas. Integritas mengandung arti bahwa kita adalah orang yang ‘lurus’, jujur dan tulus. Kita bisa dipercayai karena adanya konsistensi kata, sifat dan tindakan. Inilah wujud luar dari integritas yang tertanam dalam batin.
Ketika pemimpin pada setiap tingkatan gagal menjalani kehidupan yang berintegritas, maka akibatnya sungguh sangat fatal. Kegagalan ini meracuni komunitas, menghancurkan kepercayaan, menggagalkan misi yang saling terkait dan menyatu, dan yang paling berbahaya kegagalan ini bisa mengkhianati usaha-usaha dalam pengabaran Injil dan merendahkan Allah yang kita sembah. Namun ketika para pemimpin Kristen menjalani kehidupan yang sesuai dengan kata-kata yang mereka ucapkan, menepati janji-janji mereka, melayni komunitas mereka; pendeknya memperliatkan kepada kita Yesus Kristus itu sendiri; maka komunitas kristiani itu akan terbina dan misi kristiani pun akan meningkat. Integritas bila benar-benar dipahami dan dilakukan dengan setia, bisa mengubah karya para pemimpin, memperkuat pelayanan gerejawi dan organisasi dan mendukung kesaksian kehidupan kekristenan kita.
Kepemimpinan pada dasarnya adalah suatu ubungan atas dasar kepercayaan, oleh karena itu kredibilitas sangat penting. Ubungan Paulus dengan jemaat Korintus memperlihatkan bagaimana Paulus adalah seorang pemimpin gembala yang berintegritas. Kalau kita melihat 2 Korintus, Jemaat Korintus memiliki kecurigaan yang cukup besar akan kualitas kepemimpinan Paulus hal ini terlihat dengan faktanya bahwa Paulus dikritik dalam banyak hal, diantaranya Paulus dituduh sebagai orang yang sangat tidak bisa diandalkan karena berjanji untuk mengunjungi orang-orang Korintus, namun ternyata tidak ditepati. Paulus juga dituduh telah bertindak secara berbelit-belit dan tidak tulus, tidak mau berterus terang.
Latar belakang hubungan Paulus dengan Jemaat Korintus adalah Paulus sudah bersama-sama jemaat Korintus sebagai gembala kurang lebih delapan belas bulan seingga kalau diukur dari sudut waktu ini hubungannya dengan jemaat sudah sangat dekat, Paulus bangga dengan mereka seperti seorang ayah bangga terhadap anak-anaknya. Ada beberapa hal yang terjadi dalam jemaat yang tidak sepadan dengan kehidupan komunitas orang kristen, sehingga Paulus harus memberi teguran keras kepada mereka, Paulus arus menulis kepada mereka dengan kata-kata yang tampaknya tajam sekali. Setiap orang yang terlibat dengan tugas mendisiplin warga gereja akan memaami bahwa untuk melaksanakannya dibutukan usaha dan pengorbanan emosi yang sangat majal. Jemaat Korintus tentu saja sangat merasa sakit atas teguran itu. Bagi Paulus tugas mendisiplin itu juga penuh pengorbanan,tentu saja, ia berharap bahwa pada akirnya kehangatan dan keintiman persekutuan mereka bisa dipulihkan kembali.
     Larry Keefauver mengatakan integritas adalah apa yang dilakukan di balik pintu dalam pelayanan ketika kamera dan mikrofon dimatikan. Tanpa integritas suatu pelayanan pasti akan hancur. Dengan integritas, pemimpin mempraktekkan apa yang pemimpin ucapkan, dibalik pintu yang tertutup bersama orang lain, di tempat-tempat yang jauh dan dengan mereka yang paling karib dengan pemimpin. Lukas 12:2-3 berbunyi “Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah.”[30]
     Myles Munroe menuliskan bahwa salah satu kualitas dan karakteristik yang diperlukan dalam kepemimpinan sejati adalah Integritas yaitu konsistensi dalam perkataan dan tindakan seseorang; kelayakan untuk dipercaya; karakter yang benar.[31]
Pakar kepemimpinan Warren Bennis dalam bukunya Leaders : Strategies for Taking Charge menulis bahwa integritas adalah fondasi untuk membangun rasa percaya (trust). Trust ini berkaitan erat dengan predictability. Seorang pemimpin yang memiliki integritas membangun rasa percaya dengan menunjukkan kepada orang lain bahwa apabila ia diperhadapkan dengan tantangan moral, segala keputusan dan aksinya dapat diprediksi.[32]
Integritas dimengerti sebagai “wholeness, completeness, entirety, unfied”. Keutuhan yang dimaksud adalah keutuhan dalam seluruh aspek hidup, khususnya antara perkataan dan perbuatan. Beberapa kamus mendefinisikan integritas sebagai, “the condition of having no part taken away” atau “the character of un-corrupted virtue.” Yakobus memberikan definisi yang senada. Orang yang berintegritas adalah orang yang “mature and complete, not lacking anything” (Yakobus 1:4). Iman dan perbuatannya menyatu. Bakan dari perbuatannya, orang dapat melihat imannya (Yakobus 2:8).[33]
Integritas dapat digambarkan dan dibuktikan dengan beberapa hal seperti : (1) Saat tiuada orang yang tahu, (2) Hidup transparan dan (3) Tidak menipu orang lain, diri sendiri dan Allah.
(1)     Integritas  : Saat Tiada Orang Yang Tahu
Apa yang kita lakukan pada saat kita merasa bahwa perbuatan kita tidak akan diketahui orang lain menunjukkan level integritas kita. Integritas kita diukur dari apa yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan pada saat kita benar-benar sendirian.
Yusuf selama berhari-hari digoda oleh istri Potifar, bosnya, untuk bersetubuh dengan dia. Probabilitas perselingkuhan mereka diketahui orang sangat kecil. Bahkan mencapai titik nol. Potifar tidak dirumah, dan para pengawal dan dayang-dayang si nyonya rumah telah diatur untuk menghilang dalam waktu yang cukup lama. Yusuf dapat berselingkuh tanpa khawatir ketahuan. Namun jawabannya yang begitu tegas menunjukkan level integritasnya, “Bagaimana mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini (terhadap Potifar) dan berbuat dosa terhadap Allah?” Itulah integrity in action.
Sering kali integritas kita ditentukan oleh probabilitas tindakan tersebut diketahui orang lain. Padahal seharusnya kita gentar terhadap Allah karena Dia adalah yang Allah tak pernah tidur. Bukan hanya itu, Ia juga adalah Allah yang menyingkapkan dosa. Tegasnya, sebuah bau busuk tidak akan dapat ditutup-tutupi selamanya. Pada saat kita mencoba menutupinya, Allah dalam kedaulatan-Nya dapat membukanya dan menyatakan kepada publik.
Pengamsal mengingatkan kita, “Siapa bersih kelakuannya aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya akan diketaui” (Amsal 10:9). Terjemahan bahasa Inggris terhadap ayat ini lebih tepat : “The man of integrity walks securely, but he who takes crooked paths will be found out”. Jika kita bersikeras menutupi dosa dan kesalahan kita, Allah yang akan membukakannya dengan cara dan konteks yang berbeda sesuai dengan kedaulatan-Nya. Dan kalau itu yang terjadi, biasanya berakibat fatal. 
(2)      Hidup Transparan
Orang yang memiliki integritas tidak memiliki sesuatu yang perlu disembunyikan atau ditakuti. Hidup mereka yang transparan bagai surat yang terbuka. Dalam Perjanjian Lama, Daniel mendemonstrasikan prinsip ini dengan konkret. Saat orang-orang yang tidak mengenal Allah mencari-cari alasan untuk mendakwanya, mereka tidak dapat menemukan kesalahan apapun dalam hidup Daniel (Daniel 6:5,6). Ia menjalani kehidupan yang dari kaca mata manusia sama sekali tidak bercacat.
(3)     Tidak Menipu Orang Lain, Diri Sendiri dan Allah
Warren Wiersbe dalam bukunya Integrity Crisis menulis bahwa orang yang tidak berintegritas adalah orang yang sedang mengalami dekadensi moral dan spiritual. Kegelapan meliputi dirinya namun ia tidak mengetahuinya, karena ia merasa kegelapan dalam dirinya adalah terang.
Jalan menuju integritas begitu sulit dan berliku. Begitu banyak pemimpin Kristen yang jatuh dalam area integritas, berkompromi dalam area kuasa, uang dan seks.
Rentetan skandal ala raja Daud seharusnya membuat kita semakin rendah hati dan gentar dihadapan Tuhan. Kita semakin ketat menjaga hati dan mengujinya di hadapan Allah. Tanpa itu, tidak mungkin seorang pemimpin dapat memberikan teladan hidup. Dunia tetap menanti para role model yang berani menyatakan, “Ikutlah aku, sama seperti aku mengikut Kristus”.
     Sifat-sifat apakah yang seharusnya dimiliki setiap pemimpin ? John C. Maxwell mengutif Mazmur 15 dimana Daud menggambarkan seorang pemimpin yang saleh sebagai seorang yang :[34]
-       Mempunyai integritas
-       Tidak ikut serta dalam gosip
-       Tidak mencelakai orang lain
-       Berbicara menentang kesalahan
-       Mengargai orang lain yang hidup dalam kebenaran
-       Menepati kata-kata mereka bahkan jika merugi
-       Tidak ingin mendapatkan keuntungan dari kerugian orang lain
-       Kuat dan mantap
Integritas Paulus mendorongnya mengambil sikap teradap Petrus, rekan pemimpinnya, di depan beberapa orang percaya Yahudi dan Kafir. Paulus mengkritik kemunafikan Petrus dan menuntut supaya semua pemimpin Kristen tetap konsisten, tanpa mempedulikan teman yang ada bersama mereka. “Tetapi waktu kulihat kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua : “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yaudi?” (Galatia 2:14).
            Ada tiga ciri integritas yang sangat penting, yaitu :[35]
a.         Ketulusan : Motivasi Yang Murni
b.        Konsistensi : Menjalani Kehidupan Sebagai Suatu Keseluruan
c.         Keandalan : Mencerminkan Kesetiaan Allah
Hal-hal lainnya yang menunjukkan ciri-ciri diatas terkait dengan integritas adalah :
-       Kekudusan
-       Kesalehan
-       Kesederhanaan
-       Apa adanya
-       Tulus ikhlas
-       Tidak licik
-       Bukan Penipu
-       Spontan
-       Jujur
-       Tidak Berpura-pura
-       Transparansi
-       Keterbukaan
-       Keterusterangan
-       Ketulusan hati
-       Konsisten dalam semua situasi dan kondisi
-       Konsisten dalam berkomunikasi
-       Konsisten dalam mengatur semua urusan
-       Setia kepada Allah
-       Akuntabilitas kepada Allah
-       Akuntabilitas kepada orang lain
-       Akuntabilitas teradap diri sendiri
-       Melayani orang lain
-       Kasih yang berkorban
-       Kepedulian seperti orang tua kepada anaknya
-       Tidak ada penipuan
-       Tidak ada penyimpangan
-       Merendahkan diri
-       Tidak meninggikan diri
-       Menggunakan otoritas
-       Membangun Komunitas
-       Menangani Kegagalan
-       Integritas Sebagai Cara idup
Para pemimpin dalam beberapa organisasi tidak mengenali pentingnya menciptakan suatu keadaan yang menghasilkan pengembangan calon-calon pemimpin. Hanya pemimpinlah yang dapat mengendalikan lingkungan organisasi mereka. Mereka dapat menjadi pemicu perubahan yang menciptakan suatu keadaan yang mengasilkan pertumbuhan.
Berdasarkan deskripsi teori-teori di atas, maka Kepemimpinan Gembala Yang Berintegritas dalam penelitian ini diukur dengan tiga dimensi, yaitu Ketulusan - motivasi yang murni, Konsistensi - menjalani kehidupan sebagai suatu keseluruan dan Keandalan - mencerminkan kesetiaan Allah. Ketulusan dengan idikator-indikatornya : 1) Transparan, 2) Ketulusan Hati dan 3) Keterusterangan. Konsistensi dengan indikator-indikatornya : 1) Tingkah Laku, 2) Komunikasi dan 3) Mengatur Semua Urusan. Keandalan dengan indikator-indikatornya : 1) Kekudusan, 2) Kesetiaan dan 3) Pengetahuan Firman Tuhan.


[1] Pdt. Dr. Erastus Sabdono, M.Th. (All Out for Christ, Andi 2009, hal 14-15),
[2] Ernie Tisnawati Sule & Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen. Prenada Media, 2006.hlm.235, 255
[3] Eka Darmaputera, Kepemimpinan dalam Perspektif Alkitab. Kairos, 2005. Hlm.28-29.
[4] Dr. Larry Keefauver, 77 Kebenaran yang Hakiki dalam Pelayanan, Media Injil Kerajaan, hal 64-65).
[5] Pdt. Dr. Stephen Tong, Lembaga Reformed Injili Indonesia.1996.hlm.9-18
[6] Bagus Surjantoro, Hati Misi. Andi Offset. 2009, hlm. 44-45.
[7] Eka Darmaputera, Kepemimpinan dalam Perspektif Alkitab, Kairos 2005.hlm.84-85.
[8] Fotarisman Zaluchu, Kepemimpinan dalam nama Tuhan, Gloria Graffa, 2005, hal 80-83).
[9] Richard Clinton & Paul Leavenworth, Memulai dengan Baik – Membangun Kepemimpinan Yang Kokoh. Metanoia, 2004 hlm. 25-26
[10] Dr. H.L. Senduk, Pelayan Tuhan, Yayasan Bethel,hlm. 1-3
[11] Bagus Surjantoro, Hati Misi. Andi Offset. 2009, hlm. 44
[12] Robby Chandra, Landasan Pacu Kepemimpinan.Gloria Graffa,2005.hlm.61-62
[13] Markus Rumampuk – Pengerja yang berhasil, Gandum Mas hal. 23).

[14] Andrea Sterk & Peter Scazzero, Karakter Kristen.Perkantas, 1989.hlm.26
[15] Andrea Sterk & Peter Scazzero, Karakter Kristen.Perkantas, 1989.hlm.29.
[16] KOM 100 Pencari Tuhan, GBI Gatot Subroto, 2008. Hlm.35.
[17] KOM 100 Pencari Tuhan, GBI Gatot Subroto, 2008. Hlm.41.
[18] KOM 100 Pencari Tuhan, GBI Gatot Subroto, 2008. Hlm.41.
[19] Ernie Tisnawati Sule & Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen (Jakarta : Prenada Media), 2005, hlm.255.
4 Em Zul Fajri & Ratu Aprilia Senja, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Difa Publisher), hlm.654.


[20] Ernie Tisnawati Sule & Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen, (Jakarta : Prenada Media), 2005, hlm.255.
[21] Ernie Tisnawati Sule & Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen, (Jakarta : Prenada Media), 2005, hlm.255-256.

[22] Em Zul Fajri & Ratu Aprilia Senja, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Difa Publisher), hlm.382.
[23] Bambang Yudho, How to Become A Christian Leader, (Yayasan Andi),2006,hlm.20.
[24] John C. Maxwell, Mengembangkan Kepemimpinan Di  Dalam Diri Anda, (Jakarta : Binarupa Aksara),1995.hlm.38.
[25]  Jeff Hammond, Kepemimpinan Yang Sukses, (Metanoia),2003,hlm.51-52.
[26] Bambang Yudho, How to Become A Christian Leader, (Yayasan Andi),2006,hlm.19.
[27] John C. Maxwell, Mengembangkan Kepemimpinan Di  Dalam Diri Anda, (Jakarta : Binarupa Aksara),1995.hlm.40.
[28] John C. Maxwell, Mengembangkan Kepemimpinan Di  Dalam Diri Anda, (Jakarta : Binarupa Aksara),1995.hlm.41-48.
[29] Bambang Yudho, How To Become A Christian Leader, (Yayasan Andi),2006,hlm.20-22.
[30]  Larry Keefauver, 77 Kebenaran Yang Hakiki Dalam Pelayanan. (Semarang : Media Injil Kerajaan),hlm.121-122.
[31]  Myles Munroe, The Spirit of Leadership. (Immanuel), 2006.hlm.276.
[32]  Sendjaya, Kepemimpinan Kristen (Kairos), 2004, hlm.62.
[33]  Sendjaya, Kepemimpinan Kristen (Kairos), 2004, hlm.63-64.
[34]John C. Maxwell, Leadership – Janji Tuhan Untuk Setiap Hari.(Jakarta : Immanuel),2005.hlm.24.
[35]  Jonatahan Lamb, Integritas.(Jakarta : Perkantas – Divisi Literatur),2008.hlm.37-45.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar